Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih & Penyayang
Assalamualaikum sahabat...memandangkan kita sekarang berada dibulan suci Ramadhan.nak juga ana buat sedikit ucapan yang tak seberapa ni.Semoga kita memperbaiki diri kita ke arah yang lebih baik,bukan maksud bulan lain tak boleh berubah cuma manfaatkan Ramadhan untuk membantu untuk berubah ke arah lebih soleh & soleha.Dan semoga istiqamah dalam perubahan pada bulan-bulan seterusnya.Bersihkan hati dengan AlQuran dan Zikrullah,perbaiki hubungan silaturrahim dengan keluarga,sahabat dan orang disekeliling kita.Jaga mulut,mata,telinga dan yang paling penting hati,kenapa ana cakap hati paling penting,sebab kalau tak jaga hati,susah nak control mata telinga dan mulut dari perkara yang baik-baik.Jaga hati baik-baik,kalau tak nanti rosak.Tenangkan hati baik-baik,kalau tak nanti sakit.Didik hati baik-baik,kalau tak nanti keras.
Maaf ye ,terlampau panjang sangat ucapan ana.Sebenarnya ana nak cerita ptentang satu kisah cinta.Eh kejap,jangan la hyper excited sangat,baru cakap cinta bukan main suka u all kan.Cinta yang ana maksudkan ialah Cinta Sebenar Cinta Seorang Rasul.Cerita ini ana dapat dari seorang sahabat blogger.Cuba dalami cerita ini,insyallah cinta baginda menusuk dalam hati kita sebagai umatnya.
Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Ketika itulah, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah:
"Wahai umatku, kita semua berada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasihNya. Maka taati dan bertakwalah kepadaNya. Ku wariskan dua perkara pada kalian, al-Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-samaku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah saw. yang tenang dan penuh minat menatap sahabat-sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap baginda dengan mata yang berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
"Rasulullah saw. akan meninggalkan kita semua,"keluh hati semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah saw. yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah saw. masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tetapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian dia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah saw. menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah anakku, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikat maut," kata Rasulullah saw..
Fatimah menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri Rasulullah lalu Baginda menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khuatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Ku haramkan syurga bagi sesiapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat penghantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii, ummatiii?" – "Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai dirinya sebagaimana Baginda mencintai kita?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Semoga kita hargai segala pengorbanan Rasulullah SAW.
Wednesday, 10 July 2013
Saturday, 19 January 2013
Hamba Allah Yang Mulia
Assalamualaikum
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih & Penyayang
Sewaktu ana hadir bulatan gumbira...ukht sakinah hulur pada ana sehelai kertas kecil..ukht sakinah pesan "baca kat rumah tau dalam keadaan tenang ",setelah selesai bersalam dengan akhwat..balik tu lepas selesai siapkan assignment..pukul 12 lebih..roommate pon dah tidur..teringat kertas yang ukht bagi.segera ana dapatkan kertas tu...dalam keadaan tenang,bismillahirrahmanirrohim..
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih & Penyayang
Sewaktu ana hadir bulatan gumbira...ukht sakinah hulur pada ana sehelai kertas kecil..ukht sakinah pesan "baca kat rumah tau dalam keadaan tenang ",setelah selesai bersalam dengan akhwat..balik tu lepas selesai siapkan assignment..pukul 12 lebih..roommate pon dah tidur..teringat kertas yang ukht bagi.segera ana dapatkan kertas tu...dalam keadaan tenang,bismillahirrahmanirrohim..
Suatu hari...Nabi Muhammad S.A.W bertanya:
"Siapakah hamba Allah yang mulia?"
Sahabat menjawab:
"Para malaikat ya Rasulullah"
Sahabat yang lain:
"Tentulah para Nabi,merekalah yang mulia."
Nabi tersenyum lalu berkata:
"Ya,mereka mulia,tetapi ada yang lebih mulia."
Para sahabat terdiam lalu berkata:
"Adakah kami yang mulia itu ya Rasulullah ?"
Nabi berkata:
"Tentulah kalian mulia,kalian dekat denganku,tetapi bukan kalian yang aku maksudkan."
Nabi menundukkan wajahnya,Baginda menitiskan air mata sehingga membasahi pipi dan janggutnya,lalu berkata:
"Wahai sahabatku,mereka adalah manusia-manusia yang lahir jauh setelah wafatnya aku,mereka terlalu mencintai Allah dan tahukah kalian mereka tidak pernah melihatku,mereka tidak dekat denganku seperti kalian,mereka sangat rindu kepadaku dan saksikanlah wahai sahabatku bahawa AKU SANGAT RINDU PADA MEREKA..
MEREKALAH UMATKU..
ALLAHUMMA SALLI ALA MUHAMMAD WA ALA ALI MUHAMMAD
subhanallah...hati ana terdetik..adakah ana tergolong dalam umat yang Rasullullah rindu?layakkah ana?..sedangkan ana terlupa pada Rasullullah,sedangkan ana leka untuk turut pada sunnahnya..tapi ana nak sangat ada perasaan rindu pada Rasulullah..
Subscribe to:
Posts (Atom)